Selasa, 02 Januari 2018

Sejarah

Gedung yang difungsikan sebagai museum ini dibangun pada tahun 1745 oleh tentara Knil dengan gaya bangunan Eropa(Inggris).[3] Pada tahun 1943 gedung tersebut digunakan sebagai pusat pelatihan pasukan tanah air (walaupun masih di bawah kontrol Jepang).[3] Pembangunan Museum PETA dimulai pada tanggal 14 November 1993 dengan peletakan batu pertama oleh Wakil Presiden RI yang juga merupakan sesepuh YAPETA yaitu Umar Wirahadikusumah.[4] Pembangunan tersebut memakan waktu kurang lebih 2 tahun dan diresmikan oleh Presiden RI Soeharto pada tanggal 18 Desember 1995.

Monumen dan Museum PETA berada di sebelah utara Kebun Raya Bogor, di jalan yang berada di hadapan Istana Presiden. Menurut informasi yang saya peroleh di internet, museum ini hanya dibuka hari Senin hingga Jumat sehingga ketika hari Jumat itu kantor saya diliburkan gara-gara ada aksi Bela Islam II, saya malah kabur ke Bogor. Tapi ternyata, menurut pemandu yang ngintilin saya selama di sini, pada hari Sabtu atau Minggu pengunjung juga bisa dateng karena ada petugas jaga yang bisa dimintai tolong untuk bisa masuk. Tiket masuknya juga ga ada, tapi saya merogoh kocek sebesar 20 ribu rupiah sebagai tanda terima kasih buat si petugas jaga yang udah nemenin dan jadi tempat bertanya selama saya ngeliat-liat museum.
DSCF3426 (1280x852)
Museum ini diresmikan pada bulan Desember 1995 oleh Presiden Soeharto. Tepat di belakang lorong yang berada di antara kedua gedung museum terdapat monumen patung Jenderal Sudirman yang merupakan salah satu perwira lulusan PETA diapit oleh dua meriam medan. Di sebelah dalam dinding berbentuk setengah lingkaran tercantum nama-nama perwira tentara PETA dari seluruh Jawa, Madura dan Bali, serta Sumatera.
DSCF3395 (1280x854)
Sementara, di dalam dua ruangan museum terdapat 14 diorama dengan yang menggambarkan adegan dari perjalanan sejarah PETA. Diorama di atas memperlihatkan pertemuan antara Ir. Soekarno, Gatot Mangkupradja, Ki Ageng Suryomentaram (putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII), Ki Hajar Dewantara, KH Mas Mansyur dan Dr. Moh. Hattasedang mendiskusikan peluang dan kesempatan untuk mendirikan tentara sendiri pada tahun 1943. Papan penjelasan yang ada di setiap diorama dilengkapi dengan versi bahasa Inggris juga.
DSCF3403 (1280x854)
Diorama kedua menggambarkan suasana pelatihan di pusat pendidikan PETA Bogor. Gedung yang digunakan memanfaatkan bangunan yang dibangun pada tahun 1745 untuk tentara KNIL Belanda. Beberapa figur yang pernah digembleng di sini di antaranya adalah Jenderal Soedirman, Presiden Soeharto, Jenderal Achmad Yani, dan Sarwo Edhie Wibowo yang lebih kita kenal sebagai ayah dari Kristiani Herawani, istri Presiden SBY.
DSCF3401 (1280x854)
Di antara koleksi senjata rampasan perang dari Jepang dan sekutu yang berada di depan diorama, terdapat bendera PETA yang merupakan kombinasi bendera matahari terbit yang mewakili Jepang dan simbol bulan sabit yang mewakili Islam. Memang, dalam proses pembentukannya terdapat kontribusi sepuluh ulama yang menganggap pembentukan tentara ini dapat menanamkan paham kebangsaan dan cinta tanah air yang berdasarkan ajaran agama. Kita juga dapat mengetahui aktivitas keseharian tentara PETA di sebuah panel yang dipenuhi oleh foto-foto di kedua sisinya.
DSCF3414 (1280x855)
Lemari kaca ini menampilkan atribut prajurit peta yang terdiri dari satu stel baju lengkap dengan topi dan ikat pinggang, sepatu lars panjang, dan satu buah pedang katana. Semuanya merupakan perlengkapan asli yang dulunya dimiliki oleh para pelatih dan perwira PETA. Di depannya terdapat diorama yang menggambarkan salah satu pemberontakan PETA paling terkenal yang dipimpin Shodancho Supriyadi di Blitar pada tanggal 14 Februari 1945. Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi umumnya disebabkan oleh keprihatinan prajurit-prajurit PETA yang tidak tega melihat perlakuan bangsa Jepang terhadap bangsa pribumi.
DSCF3429 (1280x853)
Ruangan museum di sayap kanan dimulai oleh diorama tujuh yang menggambarkan suasana proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dilaksanakan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Pengibaran bendera dilakukan oleh seorang prajurit PETA, Latief Hendraningrat. Peristiwa proklamasi ini sendiri didahului oleh “penculikan” Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok yang dilakukan oleh prajurit-prajurit PETA.
DSCF3432 (1280x856)
Pada tanggal 19 September 1945, Soekarno memberikan pidato singkat di hadapan ribuan rakyat di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) dalam rangka memperingati 1 bulan proklamasi kemerdekaan. Peristiwa yang dikenang dengan nama Rapat Raksasa Lapangan Ikada ini dikawal oleh tentara-tentara dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jakarta, transformasi dari tentara PETA, yang dibentuk pada 22 Agustus 1945.
DSCF3435 (1280x855)
Diorama ini menggambarkan peristiwa penyerbuan markas Osha Butai Kota Baru oleh pasukan BKR Jogjakarta yang berlangsung pada bulan Oktober 1945. Penyerbuan yang dipimpin oleh Chudancho Soeharto ini terpaksa dilakukan karena pihak Jepang tidak mau menyerahkan senjata-senjata mereka.
DSCF3442 (1280x853)

Salah satu diorama terakhir yang ada di museum menunjukkan peristiwa pengambilalihan markas angkatan darat jepang di Surabaya. Melalui perundingan yang alot dan pertempuran yang memakan banyak korban, BKR Jawa Timur akhirnya berhasil mengambil alih gedung tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar